Anxiety dan Jantung Sehat
Citra Wulandari
| 03-02-2026

· Science Team
Kecemasan sering dianggap sekadar urusan perasaan.
Padahal, di balik pikiran yang gelisah dan rasa tidak tenang, kecemasan menyimpan dampak nyata yang bekerja perlahan di dalam tubuh, khususnya pada jantung dan sistem peredaran darah.
Dalam jangka pendek, rasa cemas memang dapat memicu respons alami tubuh untuk lebih waspada. Namun ketika kecemasan berlangsung lama dan berulang, efeknya dapat menjadi beban tersembunyi bagi kesehatan jantung.
Berbagai temuan ilmiah modern kini menegaskan bahwa kecemasan bukan hanya kondisi emosional, melainkan keadaan fisiologis yang dapat diukur. Ia memengaruhi hormon stres, sistem saraf, tekanan darah, serta ketegangan pembuluh darah. Semua proses ini berperan besar dalam menentukan seberapa sehat jantung bekerja dari hari ke hari.
Kecemasan dan Sistem Respons Stres Tubuh
Saat seseorang merasa cemas, tubuh secara otomatis mengaktifkan sistem respons stres. Sistem ini dirancang untuk menghadapi situasi yang dianggap mengancam. Hormon seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan ke dalam aliran darah, menyebabkan detak jantung meningkat dan pembuluh darah menyempit. Dalam kondisi singkat, perubahan ini membantu tubuh lebih siap bertindak.
Masalah muncul ketika kecemasan menjadi kebiasaan yang menetap. Aktivasi sistem stres yang terus-menerus membuat jantung bekerja dalam kondisi siaga hampir sepanjang waktu. Tekanan darah cenderung bertahan lebih tinggi, dan denyut jantung istirahat dapat meningkat secara perlahan. Penelitian di bidang psikofisiologi menunjukkan bahwa individu dengan kecemasan kronis sering mengalami penurunan variasi denyut jantung. Kondisi ini menandakan bahwa jantung memiliki lebih sedikit kesempatan untuk beristirahat dan menyesuaikan diri, sehingga beban jangka panjang pun meningkat.
Ketidakseimbangan Sistem Saraf
Sistem saraf otonom bertugas mengatur fungsi tubuh yang berjalan tanpa disadari, termasuk detak jantung dan ketegangan pembuluh darah. Kecemasan mendorong sistem ini ke arah dominasi saraf simpatik, yaitu kondisi tubuh yang selalu berada dalam mode siaga tinggi. Sinyal menenangkan dari saraf parasimpatik menjadi kurang aktif.
Akibatnya, saat tubuh seharusnya beristirahat, detak jantung tetap lebih cepat dari yang dibutuhkan. Ketika melakukan aktivitas fisik ringan, jantung membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke kondisi normal. Jika berlangsung terus-menerus, pola ini dapat mempercepat kelelahan jaringan kardiovaskular dan menurunkan cadangan fungsi jantung.
Pengaruh pada Tekanan Darah dan Pembuluh Darah
Kecemasan juga berkaitan erat dengan pengaturan tekanan darah. Ketegangan emosional dapat memicu lonjakan tekanan darah secara tiba-tiba akibat penyempitan pembuluh darah. Jika kecemasan sering terjadi, lonjakan ini berulang dan perlahan memengaruhi tekanan darah dasar.
Pengamatan klinis menunjukkan bahwa orang yang mudah cemas cenderung memiliki respons tekanan darah yang berlebihan terhadap pemicu stres ringan. Jantung harus memompa darah melawan hambatan yang lebih besar lebih sering, sehingga meningkatkan beban kerja dari waktu ke waktu.
Peradangan dan Pengaruh Hormon
Penelitian terbaru mengaitkan kecemasan dengan peradangan tingkat rendah yang dipicu oleh pelepasan hormon stres secara terus-menerus. Kortisol yang tinggi dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan sistem kekebalan tubuh dan memicu proses peradangan di dalam pembuluh darah.
Peradangan ini mengurangi elastisitas pembuluh darah dan menghambat aliran darah yang lancar. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat mempercepat penurunan kesehatan pembuluh darah dan meningkatkan risiko gangguan jantung.
Jalur Perilaku yang Mempengaruhi Jantung
Selain dampak biologis, kecemasan juga memengaruhi perilaku sehari-hari. Gangguan tidur, kegelisahan, dan kecenderungan menghindari aktivitas fisik merupakan pola yang sering muncul. Kurang tidur mengganggu pengaturan tekanan darah di malam hari dan mengurangi proses pemulihan alami jantung.
Di sisi lain, kurangnya aktivitas fisik membuat sistem kardiovaskular kehilangan latihan alaminya. Jantung menjadi kurang efisien dalam memenuhi kebutuhan tubuh, bahkan untuk aktivitas ringan sekalipun. Lama-kelamaan, kondisi ini dapat memperburuk ketahanan jantung secara keseluruhan.
Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan Jantung
Dalam jangka panjang, tekanan kardiovaskular yang dipicu oleh kecemasan dapat menurunkan daya lenting jantung. Jantung beradaptasi dengan stres berkepanjangan dengan bekerja lebih keras saat istirahat dan menjadi kurang fleksibel dalam menghadapi perubahan kebutuhan tubuh.
Seorang ahli jantung terkemuka, Dr. Benjamin D. Levine, menekankan bahwa menjaga aktivitas aerobik secara teratur sepanjang hidup membantu melindungi fungsi jantung dan mempertahankan sistem kardiovaskular yang lebih bugar seiring bertambahnya usia. Aktivitas fisik berperan sebagai penyeimbang alami terhadap efek stres dan kecemasan.
Kesimpulan
Kecemasan memengaruhi kesehatan jantung melalui berbagai jalur, mulai dari hormon stres, ketidakseimbangan sistem saraf, ketegangan pembuluh darah, hingga perubahan perilaku. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan mental bukanlah pelengkap semata, melainkan bagian penting dari upaya merawat jantung. Bersama pola makan yang baik, aktivitas fisik teratur, dan tidur yang berkualitas, pengelolaan kecemasan membantu kami membangun fondasi kesehatan jantung jangka panjang yang lebih kuat.